SITUS KALIJAGA

Tempat wisata di kota Cirebon yang kami kunjungi sebelum pergi
ke Gua Sunyaragi,.
Situs Taman Kera dan Petilasan Sunan Kalijaga di Cirebon ini
diperkirakan sudah ada mulai abad ke-17 sebagaimana terlihat pada
tengara Benda Cagar Budaya di jalan masuk ke situs.
Situs
ini terletak di wilayah Kelurahan Kalijaga, kecamatan Harjamukti. Dari
terminal bis Harjamukti jaraknya hanya berkisar 500 meter kearah
Selatan.
Situs ini disebut juga dan atau dikenal sebagai taman
kera Kalijaga, karena disitus ini terdapat banyak sekali kera yang telah
beradaptasi dengan pengunjungnya. Tradisi meyakini bahwa kera-kera
tersebut berasal dari jelmaan pada pengikut Sunan Kalijaga yang tidak
mematuhi ajaran Rosulullah. Uniknya kera-kera tersebut seakan-akan
mengerti akan batas wilayah mereka. Kera-kera dari kelompok selatan
tidak mau membaur dengan kera-kera dari kelompok Utara dan begitu pula
sebaliknya. Pada waktu-waktu tertentu, merekapun terlibat dalam tawuran.
Mereka berteriak-teriak seakan-akan saling mengejek lalu baku hantam
dan baku gigitpun terjadi. Tidak jarang perkelahiran antar kelompok ini
dapat menimbulkan kematian yang tragis.
Yang lebih unik lagi pada
saat perebutan kekuasaan untuk menduduki status atau tampuk pimpinan.
Kera-kera senior yang sudah merasa pantas menjadi pemimpin. (tradisi
menyebutnya dengan mandor) akan berpuasa beberapa hari. Setelah
berpuasa, barulah mereka maju ke arena pertarungan. Peristiwa ini
biasanya terjadi tiga tahun atau lima tahun sekali atau ketika pemimpin
mereka yang lama mati. Peristiwa inipun dapat diaksikan oleh pengunjung
yang kebetulan berada disitu. Dalam peristiwa itu petarung yang menang
langsung akan menjadi pemimpin mereka sedangkan yang akan menghormati
yang menang dan akan menjadi pengikutnya
Sejarah mengatakan
bahwa situs ini merupakan situs petilasan Sunan Kalijaga ketika beliau
melaksanakan penyebaran agama Islam di Cirebon.
Di dalam bangunan kayu beratap genting dengan pintu masuk berupa gapura gaya Majapahitan inilah situs Petilasan Sunan Kalijaga berada. Sunan Kalijaga yang lahir sekitar tahun 1450 dengan nama Raden Said adalah putera Tumenggung Wilatikta yang ketika itu menjabat sebagai Adipati Tuban.
Gapura Majapahitan berbentuk tak simetris serta pintu cungkup menjadi gerbang masuk ke dalam situs Petilasan Sunan Kalijaga yang tampaknya dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Hanya gapura dan pintu ini yang masih asli. Di sebelah kiri bangunan ini terdapat sebuah tempat untuk mengambil air wudlu bagi mereka yang berziarah untuk mengalap berkah. Makam Sunan Kalijaga sendiri sebenarnya berada di Desa Kadilangu, di dekat kota Demak.
Sunan Kalijaga, salah satu Waling Songo yang dianggap paling sakti, diperkirakan wafat dalam usia lebih dari 100 tahun. yang berada di Kadilangu, Demak, baru belakangan saya kunjungi. Semasa hidupnya Sunan Kalijaga ikut merancang pembangunan Masjid Agung Demak dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Ia adalah wali mumpuni yang mengerti bagaimana caranya menggunakan pendekatan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana dalam berdakwah, seperti pemakaian gamelan, seni ukir, cerita wayang, serta suluk
Di dalam bangunan kayu beratap genting dengan pintu masuk berupa gapura gaya Majapahitan inilah situs Petilasan Sunan Kalijaga berada. Sunan Kalijaga yang lahir sekitar tahun 1450 dengan nama Raden Said adalah putera Tumenggung Wilatikta yang ketika itu menjabat sebagai Adipati Tuban.
Gapura Majapahitan berbentuk tak simetris serta pintu cungkup menjadi gerbang masuk ke dalam situs Petilasan Sunan Kalijaga yang tampaknya dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Hanya gapura dan pintu ini yang masih asli. Di sebelah kiri bangunan ini terdapat sebuah tempat untuk mengambil air wudlu bagi mereka yang berziarah untuk mengalap berkah. Makam Sunan Kalijaga sendiri sebenarnya berada di Desa Kadilangu, di dekat kota Demak.
Sunan Kalijaga, salah satu Waling Songo yang dianggap paling sakti, diperkirakan wafat dalam usia lebih dari 100 tahun. yang berada di Kadilangu, Demak, baru belakangan saya kunjungi. Semasa hidupnya Sunan Kalijaga ikut merancang pembangunan Masjid Agung Demak dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Ia adalah wali mumpuni yang mengerti bagaimana caranya menggunakan pendekatan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana dalam berdakwah, seperti pemakaian gamelan, seni ukir, cerita wayang, serta suluk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar